KHOTBAH MINGGU GBKP II 22 MARET 2026 II PASSION VI II JUDIKA II TUHAN INGATLAH AKU II LUKAS 23:38-43.
TUHAN INGATLAH AKU
LUKAS 23:38-43
===========================
LATAR BELAKANG
1. Penyaliban Tuhan Yesus di atas bukit Golgota/ tengkorak/ kalvari merupakan penghukuman yang dilakukan oleh Pontius Pilatus sebagai pemegang penguasa tertinggi dan pemegang otoritas Romawi karena dia sebagai gubernur Provinsi Yudea. Pontius Pilatus menjatuhkan hukuman salib atas desakan dari Mahkamah Agama (Sanhendrin), yang merupakan pemegang tertinggi atau mempunyai otoritas Yahudi).
2. Sanhendrin yang dipimpin oleh imam besar Kayafas menangkap dan mendakwa Yesus atas tuduhan penistaan agama (blasphemy) karena mereka menganggap pengajaran yang dilakukan oleh Yesus sangat bertentangan dan menghina agama Yahudi. Disamping itu juga mereka mengganggap bahwa suatu penghinaan akan eksistensi dan otoritas Allah sebab Yesus mengklaim bahwa Dia adalah Allah. Akan tetapi karena mereka tidak mempunyai kuasa untuk mengeksekusi/ menghukum mati maka mereka membawa ke Pontius Pilatus sebagai gubernur Yudea pada waktu itu. Awalnya Pontius Pilatus tidak mau menghukum Yesus karena tidak ada kesalahan yang didapatkan Pontius Pilatus pada waktu persidangan. Akan tetapi karena tekanan politik dari sebagian besar umat Yahudi. Di mana Sanhendrin menggerakkan masa untuk berdemonstrasi di hadapan pengadilan Pontius Pilatus agar Yesus di hukum mati. Akhirnya Pontius Pilatus menghukum mati dengan menyalibkan Yesus karena Pontius Pilatus takut akan terjadi kerusuhan apabila dia tidak melakukan hukuman mati. Jadi alasan penghukuman adalah untuk menjaga kestabilan kota dan juga takut raja Romawi akan menegur dia, sehingga bisa kehelingan jabatan sebagai gubernur Yudea.
3. Kalau kita melihat ayat 38, mengatakan : Inilah raja orang Yahudi, dalam bahasa Latin : Iuses Nazarenus Rex Iudaeorum (INRI). Kalimat ini ditaruh di atas kepala Yesus sebagai bentuk tuduhan yang dilakukan oleh pemerintah Roma, karena pemerintah Roma menganggap Yesus mengklaim diri-Nya sebagai raja, dan ini merupakan pemberontak (makar) politik. Di pihak lain kalimat itu bukan saja mengatakan mengatakan alasan Yesus di salibkan, melainkan juga sebagai penghinaan. Ada dua tujuan makna penghinaan itu, pertama : Kalau berbicara mengenai raja, tentunya mempunyai kuasa dan pengikut, tetapi Yesus ditangkap dengan tidak berdaya dan tanpa perlawanan. Tidak ada pengikut-pengikut Yesus yang mencoba melawan secara sporadis dengan kekuatan “militer atau tentara”. Dengan tulisan INRI berarti mengatakan bahwa Yesus bukan raja dan tidak mempunyai kuasa. Bahkan Yesus disiksa dan dihukum mati dengan cara paling memalukan yaitu disalib. Penghukuman salib hanya diberikan kepada budak yang melarikan diri atau pemberontak. Kedua : Sebagai sindiran dan olok-olok dan peringatan kepada orang Yahudi bahwa inilah raja kalian. Sehingga mau mengatakan pemimpin Yahudi jangan membuat makar politik, karena akan berakhir penghukuman dan penyaliban. Kekuatan politik dan tentara Romawi sangat kuat. Umat Yahudi dan pemimpin Yahudi tidak sanggup mengalahkannya.
4. Dalam firman Tuhan kita, jelas terlihat bahwa bersama dengan Yesus ikut juga di hukum dua orang penjahat (penyamun), seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri Yesus (lih = Mat. 27: 38). Nama dua penyamun tidak dikatakan, bahkan dalam seluruh alkitab tidak dikatakan, tetapi kalau di naskah apokrif, seperti kitab Nicodemus dan tradisi gereja, nama dua orang tersebut adalah Dismas dan Gestas. Dengan ini mengatakan, pertama : Penggenapan dari nubuat nabi Yesaya, “ ia terhitung di antara pemberontak (Yes.53:12). Jadi Yesus disamakan sebagai seorang pemberontak. Kedua : Pemerintah Romawi menempatkan Yesus di tengah-tengah dua orang penyamun sebagai penghinaan, seolah-olah Yesus adalah pemimpin dari dua penjahat (penyamun) tersebut.
5. Dalam penyaliban Yesus, seorang penyamun yang berada di sebelah kiri yang bernama Gestas ikut menghujat Yesus dengan mengatakan bukankah Engkau adalah Kristus?. Selamatkanlah dirimu dan kami! Tetapi yang disebelah kanan (Dismas) menegor Gestas : Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama. Pertanyaan apakah dalam alkitab disebut orang yang menghujat Yesus di sebelah kiri dan yang membelah Yesus disebalah kanan? Tentunya tidak. Tetapi dalam tradisi gereja dan penggambaran seni rupa selama berabad-abad mengatakan demikian. Seorang penjahat (sebelah kanan/ Dismas) mengatakan bahwa kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah. Dengan ini mengatakan bahwa sebenarnya eksistensi Yesus telah mereka ketahui. Walaupun mereka berada dalam penjara, berita tentang ketidakbersalahan Yesus diketahui mereka. Mereka juga sadar bahwa hukuman mereka layak karena perbuatan mereka. Disamping itu juga tegoran yang dilakukan oleh salah seorang penjahat (sebelah kanan/ Dismas) terhadap seorang penjahat yang lain (sebelah kiri/ Gestas) mengatakan bahwa dia menyadari bahwa ada satu pengadilan yang lebih tinggi dan “lebih menakutkan” yaitu pengadilan Allah. Bagitu juga dia mengingatkan bahwa mereka (sesama penjahat) berada dalam posisi yang sama, yang sebentar lagi akan menghadapi maut. Tegoran ini agar temannya sesama penjahat sadar akan keberadaan sehingga jangan saling menghina atau menghujat. Lebih dari pada itu penjahat yang menegor (sebelah kanan/ Dismas) menyadari tentang eksistensi Yesus sebenarnya, dan dia telah bertobat sehingga dia mengatakan kepada Yesus : Yesus ingatlah aku, apabila engkau datang sebagai Raja. Dengan ini mengatakan bahwa bukan saja pertobatan yang terjadi tetapi ada pengakuan iman tentang Yesus sebagai Raja. Memang ini berbicara mengenai eskatologis, tetapi dia menyadari bahwa kedatangan Yesus merupakan otoritas kekuasaan Yesus yang dapat mengalahkan kekuasaan manusia dan dunia ini. Dengan Yesus mendengar dan melihat akan pertobatan dan pengakuan tersebut, sehingga Yesus mengatakan bahwa sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. Dengan begitu Yesus memberi keselamatan kepada orang tersebut. Dengan kata lain keselamatan merupakan pemberian Allah bukan manusia.
APLIKASI
Keselamatan merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada seseorang yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat manusia. Dan bagi mereka yang tetap hidup dalam keselamatan. Memang hidup dalam keselamatan tidaklah gampang, sebab banyak sekali godaan-godaan yang merayu kita agar kita jatuh ke dalam dosa. Tapi bukan berarti bahwa keselamatan itu hilang selama-lamanya, tidak. Memang ketika kita melakukan pelanggaran dan dosa, penghukuman dari Allah akan dinyatakan kelak pada hari eskatologis. Dan sepanjang kita masih hidup, kita diberi kesempatan untuk bertobat, agar keselamatan itu tetap menjadi milik kita, dan terhindar dari penghukuman Allah.
Melihat keselamatan yang diberikan Yesus terhadap salah seorang penjahat (sebelah kanan/ Dismas), mengatakan kepada kita, bahwa anugerah Allah diberikan kepada kita dengan tidak bersyarat. Yang hanya kita lakukan adalah pertobatan dan pengakuan total terhadap Yesus serta hidup dengan tidak berkompromi terhadap kehidupan dunia ini.
Keselamatan telah diberikan kepada kita lewat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Ini menunjukkan kasih Allah kepada kita. Oleh sebab itu kasih Allah yang sempurna, jangan disia-siakan dengan memberontak kepada Allah lewat melakukan dosa (bdk. Ul. 32:4-6). Karena Allah adalah kasih kita harus melakukan hal yang baik kepada-Nya lewat melakukan kebenaran dan kasih. Tetapi ketika kita melakukan kebenaran dan kasih, kita mendapatkan penderitaan dan permasalahan hidup, kita datang kepada Tuhan lewat doa, dan katakan Tuhan ingatlah aku, pasti Tuhan akan mengingat kita dan menolong kita sehingga kita bukan hanya hidup dalam kedamaian dan sukacita dalam dunia ini, tetapi kita akan hidup bersama Yesus di Firdaus.
Pdt. Stevenson Kumenit.
Komentar
Posting Komentar