PA MAMRE GBKP II 15-21 MARET 2026 II BAPA YANG MEMBERIKAN KEBAIKAN II MATIUS 7:9-12
BAPA YANG MEMBERIKAN KEBAIKAN
MATIUS 7:9-12.
===============================
LATAR BELAKANG
1. Firman Tuhan kita merupakan bagian dari khotbah Yesus di atas bukit. Dalam firman Tuhan kita ini ada satu penekanan yang disampaikan oleh Yesus, yaitu Bapa di Sorga memberikan yang baik kepada yang meminta kepada-Nya. Walaupun ini kita kenal sebagai khotbah Yesus di atas bukit, tetapi sebenarnya ini merupakan pengajaran, atau suatu pemberitaan Injil dalam bentuk pengajaran. Dalam pengajaran ini Yesus memberikan satu penjelasan yang kongkrit tentang karakter Bapa. Bapa di Sorga merupakan Bapa yang baik terhadap anak-anak-Nya. Kebaikan Bapa itu terlihat ketika anak-anak-Nya meminta kepada-Nya. Jadi dengan sederhana Yesus mengajarkan kepada orang banyak untuk meminta apa yang diperlukan kepada Bapa saja. Lewat doa orang banyak harus memohon atau meminta kepada Bapa saja, jangan kepada ilah-ilah lain. Dan lebih dari pada itu Yesus mau mengatakan bahwa kebaikan Bapa di Sorga berbeda dengan kebaikan dunia ini, khususnya orang banyak. Perlu diketahui Yesus mempersonafikasikan atau memandang orang banyak sebagai orang jahat. Kenapa demikian ? Drs. J.J. De Heer seorang teolog dari Belanda mengatakan bahwa Yesus memandang kita manusia adalah jahat, kalau diperbandingkan dengan kesucian Tuhan. Setelah kaum manusia jatuh ke dalam dosa, maka kerusakan ada pada setiap orang.
2. Untuk memahami Firman Tuhan kita ini memang harus dibaca mulai dari ayat 7. Sehingga ketika Yesus berbicara tentang “Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya, berarti Yesus mau mengatakan bahwa Yesus akan mengabulkan dan memberikan yang baik kepada mereka yang berdoa memohon kepada-Nya.
3. Pada ayat 9-10, Yesus mengatakan bahwa adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti. Atau memberi ular, jika ia meminta ikan ? Di sini secara inplisit Yesus mau mengatakan tentang karakter Bapa yang baik. Karena sebagai Bapa yang baik tidak mungkin akan membohongi anaknya atau membunuh anaknya. Sebab perlu diketahui bahwa di wilayah Palestina pada saat itu , terdapat batu-batu gamping di pinggir danau yang bentuk dan warnanya sangat mirip dengan roti bulat kecil. Yesus menggunakan kontras ini untuk menunjukkan bahwa seorang ayah tidak akan melakukan penipuan yang kejam kepada anaknya dengan memberikan sesuatu yang terlihat mirip tetapi tidak bisa dimakan. Atau memberikan sesuatu yang berbahaya kepada anaknya, karena memberikan ular.
4. Dalam pengajaran ini, Yesus mau mengatakan bahwa Bapa (Allah) yang merupakan penguasa mempunyai hati yang baik yang melebihi kebaikan manusia atau kebaikan dunia. Oleh sebab itu khotbah Yesus di bukit, memberikan satu pengajaran kepada orang banyak bahwa tidak perlu kuatir dalam berdoa kepada Bapa di Sorga. Dan ini juga memberi satu jaminan bahwa orang banyak tidak perlu kuatir atau takut, bahwa Allah akan menipu mereka atau memberikan sesuatu yang berbahaya saat mereka meminta yang baik kepada Bapa di Sorga.
5. Jadi selain Yesus memberitahukan tentang karakter Allah yang baik, Yesus juga menginginkan agar orang banyak melakukan kebaikan kepada orang lain, agar orang lain melakukan kebaikan kepada mereka. Dan kebaikan yang dilakukan adalah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Orang banyak harus melihat tentang karakter Allah yang baik itu harus diterima oleh orang lain juga, orang banyak yang harus melakukannya. Jadi kebaikan yang bersifat vertikal dan horisontal harus terjadi dalam kehidupan orang banyak. Dan kenapa Yesus menekankan hukum Taurat dan kitab para nabi? Karena orang banyak yang mendengar khotbah Yesus adalah orang Yahudi, sehingga makna Taurat dan kitab para nabi telah dipahami oleh mereka. Di mana melakukan kasih adalah perintah Allah. Disamping itu juga karena secara manusia menginginkan pemberian yang baik dari Allah, maka mereka juga harus melakukan kebaikan kepada orang lain.
APLIKASI
Tema kita Bapa yang memberikan kebaikan. Tentunya tema ini memberikan satu pengertian yang jelas kepada kita bahwa Bapa kita adalah Bapa yang baik. Karakter Bapa yang baik ini merupakan juga karakter kita. Kenapa demikian, pertama : kita adalah segambar dengan Bapa, dan ketika Bapa menghembuskan nafasnya kepada kita maka dengan sendirinya, bukan saja nafas kehidupan yang diberikan kepada kita, tetapi karakter Allah itu hidup dalam diri kita. Kedua : Memang dahulu kita telah jatuh kedalam dosa, sehingga seakan-akan segambar dengan Allah dan karakter Allah dalam diri kita menjadi kabur. Akan tetapi Allah dalam Yesus Kristus memulihkan, kita menjadi manusia yang baru yang hidup dalam persekutuan dengan Yesus Kristus, sehingga karakter yang baik itu kembali muncul dalam diri kita.
Memahami Bapa yang memberikan kebaikan, tentunya ini dikhususkan kepada seorang bapa di tengah-tengah keluarga yang harus memberikan kebaikan kepada seisi keluarganya. Agar seisi keluarga merasa bahagia dan sukacita.
Kebaikan bapa di tengah keluarga bukan saja memberi finansial atau memberi apa yang diminta oleh keluarganya, tetapi bagaimana seorang bapa menunjukkan kebaikan-kebaikan yang bisa dirasakan oleh keluarga, bahkan oleh gereja dan masyarakat, sehingga dengan kebaikan yang diperlihatkan seorang bapa akan mempengaruhi orang lain, dan orang lain mengikuti kebaikan-kebaikan bapa tersebut.
Bapa yang memberikan kebaikan berarti bapa yang tidak terpengaruh dengan “hiruk pikuk” dunia, tetapi bapa yang bisa melawan kehidupan dunia. Bapa bisa mengatur waktunya untuk hidup bersama-sama dengan keluarganya. Dan dalam kesibukan seorang bapa, bisa meluangkan waktu untuk beribadah ke gereja dan PA Mamre, serta menyediakan waktu untuk bersosialisasi dengan sesama manusia. Sehingga keluarganya mendapatkan kebaikan dari bapa sebagai kepala keluarga dan senantiasa bersyukur kepada Tuhan.
Pdt. Stevenson Kumenit.
Komentar
Posting Komentar