PA MAMRE GBKP, 22-28 FEBRUARI 2026 II HIDUP SEBAGAI KELUARGA ALLAH (1 TIMOTIUS 3:14-16)

SERMON PA MAMRE GBKP

22-28 FEBRUARI 2026

==================================

HIDUP SEBAGAI KELUARGA ALLAH

1 TIMOTIUS 3:14-16

 

LATAR BELAKANG

1.     Timotius adalah anak rohani Paulus dan ditinggalkan Paulus di jemaat Efesus untuk melakukan pembinaan kepada jemaat-jemaat di Efesus, khususnya di dalam menanggulangi ajaran-ajaran sesat yang berkembang pada waktu itu yaitu Gnostik dan Yudaisme. Paulus memahami bahwa Timotius masih muda, walaupun pemahaman teologinya baik, akan tetapi belum berpengalaman untuk menata jemaat. Oleh sebab itu Paulus memberikan petunjuk-petunjuk praktis bagaimana menata jemaat sekaligus menangkal atau melawal ajaran-ajaran palsu, dan salah satu cara untuk menangkal atau melawan ajaran-ajaran palsu adalah memperkuat iman. Karena iman yang baik akan berimplikasi kepada perbuatan-perbuatan atau tingkah laku atau kehidupan sehari-hari dari anggota jemaat. Dengan sendirinya Timotius menjadi Episkopos (menjadi pengawas, penilik) terhadap jemaat Efesus. Oleh sebab itu kitab Timotius disebut juga surat pastoral.

2.     Dalam firman Tuhan kita, jelas kali dikatakan bahwa ada satu rencana Paulus untuk segera bertemu kembali dengan Timotius di jemaat Efesus, akan tetapi Paulus juga menyadari bahwa bisa saja akan terlambat. Oleh sebab itu Paulus mengatakan jika aku terlambat. Dalam bahasa asli tertulis : dan jika kedatanganku tidak menentu. Pengertian ini bisa saja Paulus tidak jadi datang. Oleh sebab itu Paulus memberi satu motivasi dan kekuatan dan mengatakan apabila Paulus terlambat atau tidak jadi datang, Timotius tahu apa yang hendak dilakukan, yaitu bagaimana orang hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.

3.     Di sini Paulus mengatakan kepada Timotius bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah yakni jemaat dari Allah yang hidup. Paulus secara tidak langsung mengatakan bahwa jemaat Efesus adalah keluarga Allah. Sebagai keluarga Allah tentunya Allah sebagai kepala keluarga. Disamping itu jemaat Efesus adalah persekutuan atau perkumpulan orang yang percaya kepada injil tentang Yesus Kristus. Kepada mereka telah diperlihatkan  rencana Allah dan mereka dipilih untuk melakukan kehendak Allah di dunia. Jemaat Efesus adalah milik Yesus Tuhan sang kepala jemaat. Dengan kata lain jemaat Efesus adalah kyriskon (Milik Tuhan). Dan Paulus juga mengatakan bahwa Allah itu hidup. Di sini Paulus memberi satu pengertian bahwa Allah kita (Allah orang Kristen) adalah Allah yang hidup yang berbeda dengan berhala-berhala. Berhala-berhala itu mati, seperti dewi Artemis yang ada di Efesus tempat pelayanan Timotius. Begitu juga karena Allah itu hidup maka jemaat itu harus dinamis, aktif dan memancarkan kehidupan ilahi dalam moralitas dan kesaksiannya. Dengan kata lain  jemaat Efesus harus berperilaku sebagai keluarga Allah yang telah dikuduskan Tuhan dan yang beraktivitas melakukan kebaikan dan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga Paulus katakan bahwa jemaat tiang penopang (stulos) dan dasar kebenaran (Hedraioma). Di sini Paulus memakai metafora yang akrab dengan telinga orang Efesus yaitu tiang penopang. Perlu diketahui di Efesus terdapat kuil Artemis yang megah yang disangga oleh 127 tiang besar yang megah. Tiang berfungsi untuk memegang tinggi  sesuatu agar terlihat jelas oleh semua orang dan tidak  rubuh. Maksudnya tugas jemaat Efesus (gereja) memegang tinggi kebenaran Injil di hadapan dunia agar tidak tergeletak di tanah atau tersembunyi. Sedangkan pengertian dasar kebenaran (Hedraioma) adalah jemaat harus mempunyai dasar atau fondasi yang kokoh. Jemaat Efesus  bertugas menjaga kemurnia ajaran (dokrin) agar tidak goyah oleh pengajaran sesat. Tapi bukan berarti jemaat Efesus harus menciptakan kebenaran, tidak. Karena kebenaran itu  berasal dari Allah. Tetapi Jemaat Efesus adalah penjaga dan pelindung kebenaran di dunia ini. Dan ini harus ditunjukkan atau diperlihatkan oleh Jemaat Efesus dalam kehidupan mereka setiap hari. Inilah yang harus dilakukan oleh Timotius kepada anggota jemaat Efesus.

4.     Perlu diketahui, ketika Paulus mengatakan bahwa kamu tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah. Di sini benar-benar Paulus memberi perhatian khusus kepada pribadi seseorang yang harus berperilaku sebagai keluarga Allah. Pribadi lepas pribadi sebagai orang Kristen harus memahami ketika dia percaya kepada Yesus Kristus maka dengan sendirinya orang tersebut terhisap atau telah menjadi keluarga Allah, dan orang tersebut jangan mempermalukan eksistensi keluarga Allah.

5.     Paulus juga memberikan satu petunjuk praktis teologis tentang kebenaran yang sebenarnya yang disangkal oleh ajaran-ajaran palsu mengenai Yesus Kristus. Paulus mengatakan dalam ayat 16, sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita. Di sini Paulus mengatakan bahwa ibadah orang Kristen adalah besar, mulia dan terhormat. Dan bukan berarti rahasia itu tidak bisa diketahui, oleh sebab itu Paulus mengatakan  Yesus Kristus itu adalah Allah yang menyatakan diri dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh, yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yang dipercaya di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan. Jadi ibadah yang benar adalah percaya dengan sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus yang adalah Tuhan, yang telah mati, bangkit dan dimuliakan di Sorga dan diberitakan sebagai dasar Injil kepada semua bangsa untuk memperoleh keselamatan. Jadi ibadah bukan hanya sebatas formalitas dalam menyanyi dan berdoa saja.

 

APLIKASI

            Tema kita adalah hidup sebagai keluarga Allah. Sama seperti yang dikatakan Paulus kepada Timotius, demikian juga pengertiannya kepada kita. Yaitu hidup sebagai keluarga Allah adalah melakukan kehendak-kehendak Allah dalam kehidupan kita sehari-hari. Perilaku kita harus menunjukkan kita telah diselamatkan dan dikuduskan oleh Allah. Kita jangan melakukan apa yang dilakukan oleh dunia ini.

            Memang tantangan yang besar dalam kehidupan kita adalah menangkal atau menolak kehidupan dunia. Tetapi bukan berarti tidak bisa kita tolak semuanya itu. Kita akan sanggup melakukan dan berprilaku sebagai keluarga Allah kalau kita tetap hidup mengandalkan Tuhan. Sebab dengan mengandalkan Tuhan maka Roh Kudus akan menolong kita untuk hidup sebagai keluarga Allah. Roh Kudus akan membimbing dan mengajar kita untuk melakukan kehendak Allah. Kita akan hidup sesuai kehendak Allah.

            Hidup sebagai keluarga Allah adalah melakukan kebenaran, kasih, saling memperhatikan, saling menolong satu dengan yang lain dan hidup dalam sukacita. Kalaupun ada melakukan kesalahan dan dosa, kita harus meminta pengampunan kepada Tuhan. Melakukan keselahan kepada teman atau kawan kita harus berani dan dalam kerendahan hati meminta maaf kepadanya. Dengan melakukan ini maka kita akan senantiasa diberkati oleh Tuhan, dan kelak kita akan dimuliakan.

 

Pdt. Stevenson Kumenit  

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KHOTBAH MINGGU GBKP II PASSION IV II PERHATIKAN DAN SELAMATKAN AKU TUHAN II MAZMUR 31:15-19

SEISI RUMAH MENYEMBAH KEPADA ALLAH (KISAH PARA RASUL 10:1-2)

LAKUKAN KEADILAN (AMOS 5:7)